Fatwa para syeikh tentang jama’ah tablig oleh syeikh rabi

من أقوال علماء السنة في جماعة التبليغ

جمعها فضيلة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي

 

 

 

 

 

Fatwa Para Ulama Sunnah tentang Jama’ah

 Tabligh

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Syiekh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diterjemahkan oleh : Muhammad Elvi Syam, Dai dan Penerjemah di Islamic Dawa & Guidance Center di Hail. K.S.A

 

Pendahuluan

 

Segala puji hanya untuk Allah semata, dan salawat dan salam atas Rasulullah dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya dan atas siapa yang mengikuti petunjuknya.

Amma ba’du :

Sungguh telah sampai kepada penyusun beberapa lembaran yang berisikan perkataan dua orang alim salafi Syeikh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin, dimana sebagian orang Jamaah Tabligh ini menyeberkan dan membagi-bagikannya di kalangan orang yang tidak mempunyai ilmu dan orang yang tidak mengetahui hakikat manhaj (ajaran) mereka yang batil dan aqidah mereka yang rusak.

Ternyata, pada perkataan dua orang syeikh itu ada bukti menyalahkan mereka. (Sebenarnya), perkataan Syeikh Ibnu Baz berdasarkan kepada ungkapan dan pengakuan seorang tabligh atau orang simpatisan dengan mereka, ia menceritakan kepada syeikh Ibnu Baz berbeda dengan apa yang mereka pegang, dan ia menggambarkan kepada syeikh tentang mereka tidak seperti gambaran mereka yang sebenarnya. Apa yang kita katakan ini dipertegas oleh ucapan Syeikh Ibnu Baz sendiri, beliau berkata :

Dan tidak diragukan lagi sesungguhnya manusia (masyarakat) sangat membutuhkan sekali kepada seperti pertemuan-pertemuan yang baik ini, yang berkumpul untuk mengingatkan kepada Allah dan dakwah (mengajak) kepada berpegang kepada agama Islam dan mempraktekan ajaran-ajrannya dan memurnikan tauhid dari bid’ah-bid’ah dan khurafat-khurafat….”

(Lihat fatwa beliau no : 1007 tertanggal : 17/8/1407, yaitu yang sekarang disebarkan oleh jamaah tabligh).

Hal ini mengambarkan bahwasanya penulis pengakuan dan pernyataan itu sungguh telah menyebutkan dalam pernyataannya itu, bahwa sesungguhnya jamaah ini mengajak kepada berpegang teguh dengan agama Islam dan mempraktekkan ajarannya serta memurnikan tauhid dari bid’ah-bid’ah dan khurafat-khurafat. Maka dengan sebab itulah syeikh memuji mereka.

Kalau seandainya penulis pernyataan itu mengatakan perkataan yang benar (tidak berbohong) tentang mereka, dan menggambarkan kondisi mereka sesuai dengan hakikat mereka yang sebenarnya, dan menerangkan ajaran mereka yang rusak, niscaya kita tidak melihat dari Imam Ibnu Baz yang salafi muwahhid (yang bertauhid) ini kecuali celaan pada mereka, dan tahdzir (peringatan) dari mereka dan dari bid’ah-bid’ah mereka seperti yang beliau lakukan dalam fatwa beliau terakhir tentang mereka yang dilampirkan dalam makalah ini.

Dan dalam perkataan allamah Ibnu Utsaimin juga menyalahkan mereka, lihatlah kepada perkataan beliau berikut ini :

Catatan : Jikalau perbedaan itu terdapat pada masalah-masalah aqidah maka

 wajiblah diperbaiki dan apa saja yang berbeda dengan mazhab salaf maka wajiblah diingkari dan ditahzir (diperingatkan untuk menjauhi) dari orang yang menempuh / melakukan apa yang menyelisihi mazhab salaf pada permasalahan ini.

(Lihatlah fatwa Ibnu Utsaimin: 2/939-944 sebagaimana yang ada dalam selembaran yang disebarkan oleh Jamaah Tabligh sekarang).

Tidak diragukan lagi sesungguhnya perbedaan antara salafiyin, ahlu sunnah dan tauhid dengan jamaah tabligh, adalah perbedaan yang kuat, dan dalam, tentang masalah aqidah dan manhaj.

(Karena), mereka itu adalah (beraqidah) Maturidiyah yang menghilangkan (mengingkari) sifat-sifat Allah, mereka adalah sufi dalam masalah ibadah dan adab, mereka melakukan bai’at berdasarkan atas empat ajaran (terikat) sufiyah yang tenglam dalam kesesatan, sesungguhnya ajaran sufi itu berdiri atas ajaran hululiayh (Allah menyatu dengan Makhluk) dan wihdatul wujud (Allah dan makhluk itu satu), perbuatan syirik dengan kuburan, dan lainnya dari bentuk-bentuk kesesatan.

Dan ini, dapat dipastikan allamah Ibnu Utsaimin tidak mengetahui tentang mereka, kalau seandainya beliau mengetahui hal itu pasti ia telah menghukum mereka dengan kesesatan dan pasti beliau telah mentahdzir (memperingatkan) dari mereka dengan peringatan yang keras, dan tentu beliau telah menempuh jalan salafy terhadap mereka, seperti yang dilakukan oleh dua orang syeikh beliau (yaitu) Imam Muhammad Bin Ibrahim dan Imam Ibnu Baz.

Dan seperti yang dilakukan oleh Syeikh Al-Albani, Syeikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Syeikh Fauzan, Syeikh Hamud At Tuwaijiri, Syeikh Taqiyuddin Al Hilali, Syeikh Sa’ad Al-Hushein, Syeikh Saifur Rahman dan Syeikh Muhammad Aslam. Dan mereka-mereka ini mempunyai karangan-karangan yang agung yang menerangkan akan kesesatan Jamaah Tabligh, dan bahayanya apa yang mereka pegang dari segi aqidah dan manhaj yang sesat, maka hendaklah orang yang mencari kebenaran merujuk kepada karangan-karangan itu. Dan sungguh Abdur Rahman Al Misri telah menarik kembali apa yang telah ia tulis berhubungan dengan pujiannya terhadap Jamaah Tabligh dan mengakui kesahalannya di hadapanku (penyusun).

Adapun Yusuf AL Malahi, beliau ini adalah diantara orang-orang yang ikut bersama mereka selama bertahun-tahun, kemudian ia menulis satu kitab tentang mereka, dengan menerangkan kesesatan mereka, rusaknya akidah mereka, kemudian sangat disayangkan sekali, ia kembali meninggalkan kebenaran dan fakta, dan ia telah menulis tentang mereka dalam kitabnya yang terakhir, sedang kitabnya yang pertama menyokongnya, dan apa yang telah ditulis oleh para ulama manhaj (salaf) tentang mereka mematahkan kebatilannya. Kaidah yang mulia (mengatakan) : Jarh (celaan) lebih didahulukan atas ta’dil (pujian), membantah setiap pujian yang keluar dari siapapun, jika kiranya orang-orang Jamaah Tabligh berpegang teguh kepada kaidah-kaidah islamy yang benar, dan menempuh jalan-jalan ahli ilmu dan penasehat, terhadap Islam dan muslimin.

Ditulis oleh :

 

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali.

Pada tanggal : 29 / Muharam / 1421 H.

 

 

 

Fatwa Terakhir Syeikh Abdul Aziz Bin Baz Tentang Tahdzir (Peringatan) Dari Jamaah Tabligh.

 

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz telah ditanya tentang Jamaah Tabligh, si penanya berkata :

Wahai samahatu Syeikh, kami mendengar tentang Jamaah Tabligh dan dakwah

yang mereka lakukan. Apakah Syeikh menasehatiku untuk bergabung dengan jamaah ini? Saya mohon diberi bimbingan dan nasehat, semoga Allah melipat gandakan pahala syeikh”.

Maka Syeikh menjawab dengan mengatakan :

Setiap orang yang berdakwah kepada Allah maka ia adalah mubaligh, (balighu ‘anni walau ayah) artiya “sampaikanlah dariku walau satu ayat”. Akan tetapi Jamaah Tabligh yang terkenal, yang berasal dari india ini, mereka memiliki khurafat-khurafat, mereka memiliki sebagian bid’ah-bid’ah dan perbuatan syirik, maka tidak boleh keluar (berpergian) bersama mereka, kecuali seorang yang memiliki ilmu, orang yang berilmu itu keluar untuk mengingkari perbuatan mereka, dan mengajar mereka. Adapun jikalau ia keluar untuk mengikuti mereka, maka jangan (jangan keluar bersama mereka-pent).

Karena mereka memiliki khurafat-khurafat, mereka memiliki kesalahan dan kekurangan dalam ilmu, akan tetapi jika ada jamaah dakwah selain mereka dari kalangan ahli ilmu dan ahli pemahaman, maka (tidak mengapa-pent) ia keluar bersama mereka untuk berdakwah kepada Allah.

Atau seseorang yang memiliki ilmu, dan pemahaman, maka ia keluar bersama mereka untuk memahamkan mereka, mengingkari (kesalahan) mereka, dan membimbing mereka kepada jalan yang baik, serta mengajar mereka, sehingga mereka meninggalkan mazhab (ajaran) yang batil, dan memegang mazhab ahli sunnah wal jamaah.”

Maka hendaklah jamaah tabligh dan siapa yang simpati kepada mereka mengambil faidah dari fatwa ini yang menjelaskan kondisi mereka sebenarnya, akidah mereka, manhaj mereka dan karangan-karangan pemimipin mereka yang mereka ikuti.

{saya mentekskripkan dari kaset dengan judul (Fatwa samahatus Syeikh Abdul Aziz Bin Baz ala Jamaatu Tabligh), fatwa ini dikeluarkan di Taif kira-kira dua tahun sebelum beliau wafat, dan di dalamnya terdapat bantahan terhadap kekeliruan Jamaah Tabligh terhadap perkataan yang lama yang bersumber dari Syeikh, sebelum jelas baginya akan hakikat kondisi dan manhaj mereka.}

 

 

Jamaah Tabligh dan Ikhwan tergolong dari 72 golongan (firqah).

 

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz telah ditanya :

Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, hadits Nabi , tentang berpecahnya

umat-umat (yakni) sabda beliau : “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan kecuali satu”. Apakah Jamaah Tabligh dengan kondisi mereka yang memiliki beberapa kesyirikan dan bid’ah, dan Jamaah Ikhwan Muslimin dengan kondisi mereka yang memiliki sifat hizbiyah (berkelompok), dan menentang penguasa, serta tidak mau tanduk dan patuh, apakah dua golongan ini masuk …? (ke dalam hadits tadi-pent).

Maka Syeikh menjawab :

Dia masuk dalam 72 dolongan ini; siapa yang menyelisihi akidah ahli

 sunnah maka ia telah masuk kepada 72 golongan. Maksud dari sabda beliau (umatku) adalah umat ijabah artinya mereka yang menerima dan menampakkan keikutan mereka kepada beliau, tujuh puluh tiga golongan, yang lolos dan selamat adalah yang mengikuti beliau dan konsekwen dalam agamanya. Dan tujuh puluh dua golongan, di antara mereka ada bermacam-macam, ada yang kafir, ada yang bermaksiat dan ada yang berbuat bid’ah.”

Lalu si penanya berkata : “Maksudnya kedua golongan ini (Jamaah Tabligh dan Ikhwan) termasuk dari tujuh puluh dua ?

Syeikh menjawab :

Ya. Termasuk dari tujuh puluh dua, begitu juga Murjiah dan lainnya, Murjiah

 dan Khawarij. Oleh sebagain ahli ilmu memandang Khawarij tergolong dari orang kafir yang keluar dari Islam, akan tetapi ia termasuk dari keumuman tujuhpuluh dua itu.

{Diambil dari pelajaran beliau dalam Syarh al Muntaqa di kota Taif, ini terdapat di dalam kaset rekaman, sebelum beliau wafat kira-kira dua tahun atau kurang}.

 

Hukum Khuruj (Keluar) Bersama Jamaah Tabligh.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz telah ditanya :

 

Saya telah keluar bersama Jamaah Tabligh ke India dan Pakistan, kami

berkumpul dan shalat di mesjid-mesjid yang di dalamnya terdapat kuburan, dan saya mendengar bahwa shalat di mesjid yang di dalamnya terdapat kuburan, maka shalatnya batal (tidak sah), apakah pendapat Syeikh tentang shalat saya, apakah saya mengulanginya, dan apa hukum khuruj (keluar) bersama mereka kepada tempat-tempat seperti ini?

 

Jawab

 

Bismillah walhamdulillah, amma ba’du :

Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai ilmu dan pemahaman dalam masalah-masalah akidah, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka, kecuali bagi orang yang memiliki ilmu dan pemahaman tentang akidah yang benar yang dipegang teguh oleh ahli sunnah wal jamaah, sehingga ia membimbing, dan menasehati mereka, serta bekerja sama dengan mereka dalam kebaikan, karena mereka gesit dalam beramal, akan tetapi mereka butuh penamahan ilmu dan butuh kepada orang yang akan memahamkan mereka dari kalangan ulama-ulama tauhid dan sunnah. Semoga Allah menganugerahkan kepada semua akan pemahaman dalam agama dan konsekwen di atasnya.

 

Adapun shalat di dalam mesjid-mesjid yang di dalamnya ada kuburan, maka shalatnya tidak sah, dan kamu wajib mengulangi shalat yang kamu kerjakan di mesjid-mesjid itu, karena Nabi bersabda : “Allah telah melaknat Yahudi dan Narani yang mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid”. (muttafaqun ‘alaihi). Dan sabda Beliau : “Ingatlah sesungguhnya orang sebelum kalian, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shaleh mereka sebagai mesjid, ingatlah, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai mesjid, sesungguhnya saya melarang kalian akan itu”. H.R. Muslim.

 

Dan hadits-hadits pada hal ini sangatlah banyak, wa billahi taufiq, semoga Allah menanugerakan salawat dan salam atas nabi kita Muhammad dan atas keluarganya serta sahabatnya.

{Fatwa tertanggal : 2/11/1414H}

 

Komentar Penyusun Sekitar Perkataan Abdul Aziz Bin Baz :

Maka tidak boleh khuruj (keluar) bersama mereka, kecuali orang

 yang mempunyai ilmu dan pemahaman tentang akidah yang shahih yang dipegang teguh oleh ahli sunnah wal jamaah, sehingga ia bisa membimbing dan menasehati mereka serta bekerja sama dengan mereka untuk melakukan kebajikan.”

Penyusun mengatakan :

 

Semoga Allah merahmati Syeikh, kalaulah mereka itu mau menerima nasehat, dan bimbingan dari ahli ilmu, tentulah tidak ada halangan untuk keluar (khuruj) bersama mereka, akan tetapi realita yang membuktikan bahwasanya mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau meninggalkan kebatilan mereka. Disebabkan ta’asub (fanatik) dan sikap menuruti hawan nafsu mereka yang bersangatan.

 

Kalaulah mereka menerima nasehat-nasehat para ulama, niscaya mereka telah meninggalkan manhaj mereka yang batil dan pastilah mereka telah menempuh jalan ahli tauhid dan sunnah.

 

Jika seandainya permasalahannya seperti itu, maka tidaklah boleh khuruj (keluar) bersama mereka, sebagaimana sikap itu merupakan sikap manhaj salafusholeh yang berpengang kepada kitab dan sunnah dalam mentahdzir (memperingatkan) dari ahli bid’ah dan dari bergaul serta bermajlis dengan mereka, karena hal itu adalah menambah banyaknya keanggotaan mereka, dan membantu dan memperkuat bersebarnya kesesatan mereka, dan hal itu adalah pengkhianatan terhadap agama Islam dan kaum muslimin, terpedaya oleh mereka dan kerja sama dalam melakukan dosa dan melampaui batas.

 

Apalagi mereka itu melakukan bai’at berdasarkan atas 4 macam tarikat (ajaran) sufi yang di dalamnya terdapat keyakinan hululiyah (Allah menepati makhluk) dan wahdatul wujud (Allah dan makhluk satu) serta syirik dan bid’ah.

 

Fatwa Lajnah Daimah (Lembaga Tetap) tentang Jamaah Tabligh.

No fatwa : 17776, tertanggal : 18/3/1416 H.

 

Seorang penanya (Muhammad Kahlid Al Habsi) bertanya setelah ia mengemukakan pertanyaan pertama, sebagai berikut :

 

Pertanyaan Kedua : “Saya pernah membaca beberapa fatwa Syeikh (Ibnu Baz). Dan Syeikh mendorong / mengajak pelajar (penuntut ilmu) untuk keluar (khuruj) bersama Jamaah Tabligh, dan alhamdulillah kami telah khuruj bersama mereka, dan kami memetik faidah yang banyak, akan tetapi, wahai Syeikh yang mulia, saya melihat sebagian amalan (yang dikerjakan-pent) tidak ada tercantum di dalam Kitabullah dan sunnah rasul-Nya seperti :

 

  1. Membuat lingkaran di dalam mesjid pada setiap dua orang atau lebih, lalu mereka

  2.  saling mengingat sepuluh surat terakhir dari Al Quran, dan konsisten dalam

  3. menjalankan amalan ini dengan cara seperti ini pada setiap kali kami khuruj (keluar).

  4. Ber’itikaf pada seriap hari Kamis dalam bentuk terus menerus.

  5. Membatasi hari untuk khuruj, yaitu tiga hari dalam satu bulan, empat puluh hari setiap

  6.  tahun dan empat bulan seumur hidup.

Selalu doa berjamaah setiap setelah bayan (pelajaran).

Bagaimanakah wahai syeikh yang mulia, jika seandainya saya keluar bersama jamaah ini, dan saya melakukan amalan-amalan dan perbuatan ini yang tidak pernah terdapat di dalam kitabullah dan sunnah rasul, ketahuilah wahai syeikh yang mulia, sesungguhnya merupakan hal yang sangat sukar sekali untuk merobah metode (manhaj) ini. Beginilah cara dan metode mereka seperti yang diterangkan di atas.

 

Jawab

 

Apa yang telah anda sebutkan dari perbuatan jamaah ini (Jamaah Tabligh)

 seluruhnya adalah bid’ah, maka tidak boleh ikut serta sama mereka, sampai mereka berpegang teguh dengan manhaj kitab dan sunnah serta meninggalkan bid’ah-bid’ah.”

 

Tertanda :

 

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Anggota : Abdul Aziz bin Abdullah Ali Syeikh.

Anggota : Sholeh bin Fauzan Al Fauzan.

Anggota : Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

 

(Di bawahnya penyusun melampirkan kopian fatwa beserta tanda tangan setiap syeikh).

 

Fatwa Syeikh ‘Alaamah Muhammad bin Ibrahim Ali Syeikh tentang tahdzir (peringantan) dari jamaah tabligh.

 

Dari Muhammad bin Ibrahim kepada hadapan pangeran Khalid bin Su’ud

, pimpinan kantor kerajaan yang terhormat, assalamu’alikum warahmatullah wabarakatu dan selanjutnya :

 

Sungguh saya telah menerima surat Pangeran (no : 36/4/5-d, tertanggal 21/1/1382 H) beserta lampirannya, hal itu adalah harapan yang diangkat kepada hadapan dipetuan agung Raja yang terhotmat, dari Muhammad Abdul Majid Al Qadiri, Syah Ahmad Nurani, Abdus Salam Al Qadiri dan Su’ud Ahmad Ad Dahlawi, sekitar permohonan mereka minta bantuan untuk proyek organisasi mereka yang mereka namakan (Kuliah Da’wah Tabligh Al Islamiyah) dan begitu juga buku-buku kecil yang dilampirkan bersama surat mereka. Saya mengemukakan kepada hadapan Pangeran, bahwasanya organisasi ini tidak ada kebaikan di dalamnya, karena sesungguhnya ia adalah organisasi bid’ah dan sesat. Dan dengan membaca buku-buku kecil yang dilampirkan dengan surat mereka, maka kami telah menemukan buku-buku itu mengandung kesesatan, bid’ah dan dakwah (ajakan) kepada mengibadati kubur dan syirik. Hal itu adalah perkara yang tidak mungkin didiamkan. Oleh karena itu kami insya Allah akan membalas surat mereka dengan apa yang mungkin menyingkap kesesatan mereka dan membantah kebatilan mereka. Dan kita mohon kepada Allah semoga Dia menolong agama-Nya, dan mengangkat kalimat-Nya, wassalamu’alikum warahmatullah”. [S-M-405 pada tanggal 29/1/1382H].

 

{Rujuklah ke Kitab : Alqaulul Baligh fit Tahdzir Min Jamaatit Tabligh, oleh syeikh Hamud At Tuwaijiri halaman : 289}.

 

Fatwa syeikh Alaamah Muhammad Nasuruddin Al Albani tentang Jamaah Tabligh.

 

Beliau pernah ditanya :

Apakah pendapat Syiekh tentang Jamaah Tabligh, apakah boleh bagi pelajar

 (penuntut ilmu) atau lainnya untuk khuruj (keluar) bersama mereka dengan dalih berdakwah kepada Allah ?

 

Maka beliau menjawab :

 

Jamaah Tabligh tidak berdiri (berdasarkan) atas manhaj kitabullah dan sunnah rasul-Nya ‘alaihi salawat wa salam, dan apa yang dipegang oleh salafuu sholeh.

 

Kalau seandainya perkaranya seperti itu, maka tidaklah boleh khuruj bersama mereka, karena hal itu bertentangan dengan manhaj kita dalam menyampaikan manhaj salafus sholeh.

 

Maka dalam medan dakwah kepada Allah, yang keluar itu adalah orang yang berilmu, adapun orang-orang yang keluar bersama mereka, yang wajib mereka lakukan adalah untuk tetap tinggal di negeri mereka dan memperlajari ilmu di mesjid-mesjid mereka, sampai-sampai mesjid-mesjid itu mengeluarkan ulama yang melaksanakan tugas dalam dakwah kepada Allah.

 

Dan selama kenyataanya masih seperti itu, maka wajiblah atas penuntut ilmu (pelajar) untuk mendakwahi mereka-mereka itu (Jamaah Tabligh-pent) di dalam rumah mereka sendiri, agar mempelajari kitab dan sunnah dan mengajak manusia kepadanya.

 

Sedang mereka –yakni Jamaah Tabligh- tidak menjadikan dakwah kepada kitab dan sunnah sebagai dasar umum, akan tetapi mereka mengatagorikan dakwah ini sebagai pemecah. Oleh karena itu, maka mereka itu lebih cocok seperti Jamaah Ikhwan Muslimin.

 

Mereka mengatakan bahwa dakwah kami berdiri atas kitab dan sunnah, akan tetapi ini hanya semata-mata ucapan, sedangkan mereka tidak ada akidah yang menyatukan mereka, yang ini Maturidi dan yang itu Asy’ari, yang ini sufi dan yang itu tidak punya mazhab.

 

Itu, karena dakwah mereka berdiri atas dasar : bersatu, berkumpul, kemudian pengetahuan. Pada hakikatnya mereka tidak mempunyai pengetahuan sama sekali, sungguh telah berjalan bersama mereka waktu lebih dari setengah abad, tidak pernah seorang alim pun yang lahir di tengah-tengah mereka.

 

Adapun kita, maka kita mengatakan : Berpengetahuan (dulu), kemudian berkumpul, sehingga perkumpulan itu berada di atas pondasi yang tidak ada perbedaan di dalamnya.

 

Dakwah Jamaah Tabligh adalah sufi moderen, yang mengajak kepada akhlak. Adapun memperbaiki akidah masyarakat, maka mereka itu tidak bergeming, karena dakwah ini (memperbaiki akidah) –sesuai dengan prasangka mereka- memecah belah.

Dan sungguh telah terjadi koresponden antara akh Sa’ad Al Hushain dan pemimpin Jamaah Tabligh di India atau Pakistan, maka jelaslah darinya bahwa sesungguhnya mereka itu menyetujui tawasul, dan istighatsah dan banyak hal-hal lain yang sejenis ini. Dan mereka meminta kepada anggota mereka untuk membai’at di atas emapat macam terikat (ajaran), diantaranya adalah : An Naqsyabandiyah, maka setiap orang tabligh seyogyanya untuk membai’at di atas dasar ini.

 

Dan mungkin seorang akan bertanya : Sesungguhnya Jamaah ini, disebabkan usaha anggota-anggotnya telah kembali (insaf dan sadar) kebanyakan manusia kepada Allah, bahkan mungkin melalui tangan-tangan mereka kebanyakan orang non muslim telah masuk Islam. Apakah ini sudah cukup sebagai dalih bolehnya untuk keluar dan bergabung bersama mereka pada apa yang mereka dakwahkan?

 

Maka kita katakan : “Sesungguhnya ucapan-ucapan ini sering kami ketahui dan kami dengar dan kami dengar (juga) dari orang-orang sufi!!. Ini bagaikan : Ada seorang syeikh akidahnya rusak, dan tidak pernah mengetahui sedikitpun tentang sunnah, bahkan ia memakan harta orang dengan cara batil (tidak sah)…. Disamping itu banyak orang yang fasik (yang berdosa) bertaubat lewat tangannya….!

 

Maka setiap jamaah yang mengajak kepada kebajikan pasti mempunyai pengikut, akan tetapi kita harus melihat kepada intisari permasalahan, kepada apakah yang mereka mengajak / berdakwah? Apakah kepada mengikuti kitabullah dan hadits Rasul, kepada akidah salafus sholeh, tidak ta’ashub (fanatik) mazhab, dan mengikuti sunnah, dimanapun dan sama siapapun?

 

Maka Jamaah Tabligh, mereka tidak memiliki manhaj ilmu, akan tetapi manhaj mereka sesuai dengan tempat dimana mereka berada, mereka berubah warna dengan setiap warna.

 

{Rujuklah Fatwa Imaratiyah, karangan Al Albani soal no : 73 hal : 38}.

 

Fatwa Syeikh Alaamah Abdur Razzaq ‘Afifi Tentang Jamaah Tabligh.

 

Syeikh ditanya tentang khuruj Jamaah Tabligh dalam rangka mengingatkan manusia kepada keagungan Allah. Maka Syeikh berkata :

 

Pada kenyataannya, sesungguhnya mereka adalah mubtadi’ (orang yang

 membuat bid’ah) yang mutar balikkan serta pelaku terikat (ajaran) Qadariyah dan lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Ilyas (pendiri Jamaah Tabligh-pent), mereka tidak mengajak kepada kitab dan sunnah, akan tetapi mengajak kepada Ilyas Syeikh mereka di Bangladesh.

 

Adapun khuruj dengan tujuan dakwah kepada Allah, itulah khuruj di jalan Allah, dan ini bukan khurujnya Jamaah Tabligh.

 

Saya mengetahui Jamaah Tabligh sejak zaman dahulu, mereka itu adalah pembuat bid’ah di manapun mereka berada, di Mesir, di Israil, di Amerika, di Saudi, semua mereka selalu terikat dengan syeikh mereka yaitu Ilyas”.

 

{Fatawa dan Rasail oleh samahatu syeikh Abdur Razzaq ‘Afifi (1/174).

 

 

Fatwa Syeikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan

 

Syeikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan telah ditanya :

Apakah pendapat syeikh tentang orang yang keluar (khuruj) ke luar Kerajaan

 Saudi untuk berdakwah, sedangkan mereka belum pernah menuntut ilmu sama sekali, dan mereka memberikan motivasi untuk itu, dan mereka elu-elukan syi’ar yang aneh, dan mendakwakan sesungguhnya siapa yang keluar di jalan Allah untuk berdakwah, maka Allah akan memberinya ilham. Mendakwakan sesungguhnya ilmu itu bukanlah syarat yang penting.

 

Tentu Syeikh mengetahui bahwa di luar kerajaan Saudi ini akan ditemukan aliran-aliran dan agama-agama serta pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan kepada si dai.

 

Tidakkah Anda melihat wahai Syeikh yang mulia, sesungguhnya orang yang keluar di jalan Allah itu harus mempunyai senjata agar bisa menghadapi masyarakat, terkhusus di timur Asia, dimana mereka memerangi / membenci pembaharu dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab? Saya mohon jawaban atas pertanyaan saya ini agar manfaatnya menyebar.”

 

Jawab

 

Khuruj (keluar) di jalan Allah, bukanlah khuruj yang mereka maksudkan sekarang. Khuruj (keluar) di jalan Allah adalah keluar untuk berperang. Adapun apa yang mereka namakan dengan khuruj itu, sesungguhnya ini adalah bid’ah yang tidak pernah datang dari salaf.

 

Seorang keluar untuk berdakwah kepada Allah, tidaklah dibatasi pada hari-hari tertentu, akan tetapi berdakwah kepada Allah sesuai dengan kesempatan dan kemampuannya, tanpa harus terikat dengan jamaah atau terikat dengan empat puluh hari atau kurang atau lebih.

 

Dan begitu juga, di antara yang wajib atas seorang dai, ia haruslah mempunyai ilmu, seseorang tidak boleh berdakwah kepada Allah sedangkan ia bodoh (tidak berilmu), Allah berfirman :

 

Artinya : “Inilah jalanku, yang aku mengajak kepada Allah di atas pengetahuan”

 

Yaitu atas ilmu, karena seorang dai mesti mengetahui apa yang akan didakwahinya, berupa hukum-hukum yang wajib, yang sunat, yang haram dan yang makruh. Dia harus mengetahui apa itu syirik, maksiat, kekufuran, kefasikan, kemaksiatan. Dan harus mengetahui tingkat-tingkat pengingkaran, dan bagaimana cara mengingkari.

 

Khuruj yang menyebabkan disibukan dari menuntut ilmu adalah perkara yang batil (salah), karena menuntut ilmu itu adalah fardu (kewajiban), dan ilmu itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan cara belajar, tidak akan didapatkan dengan cara ilham, ini merupakan khurafat sufi yang sesat, karena amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Dan tentu meraih ilmu tanpa belajar adalah angan-angan yang salah.

 

{Dari kitab Tsalatsu Muhadharat fil Ilmi Wad Da’wah}.

 

 

Diterjemahkan oleh : Muhammad Elvi Syam, Dai dan Penerjemah di Islamic Dawa & Guidance Center di Hail. K.S.A

 

 

9 responses to “Fatwa para syeikh tentang jama’ah tablig oleh syeikh rabi

  1. ‘Salafi’ mencurangi isi kitab Riyadus Sholihin

    July 30th, 2007 at 4:42 pm (wahaby)

    ‘Salafi’ Tampering of Riyad al-Salihin

    by Moin Shaheed, President, Ahlus Sunnah Muslim Association of Sri Lanka and GF Haddad ©

    Warning: Avoid this English translation of Riyad al-Salihin!

    A review of the translation of al-Nawawi’s Riyad al-Salihin published in 1999 byDarussalam Publishing House, Riyad: http://www.dar-us-salam.com/h4riyad-us.htm

    A team of unprincipled editors and translators out of a Ryad publishing house by the name of Darussalam was commissioned to produce a glossy 2-volume English edition of Imam al-Nawawi’s Riyad al-Salihin – being distributed for free to Islamic schools around the world – designed to propagate “Salafi” ideology to the unwary English-speaking Muslim students of Islamic knowledge. This ideology is couched within a thoroughly unscrupulous “commentary” inserted into the book chapters and authored by an unknown or spurious “Hafiz Salahuddin Yusuf of Pakistan,” “revised and edited by Mahmud Rida Murad” (1:7). Following are some examples of what is contained in this brand new “Salafi” product:

    (a) The work is laced with unabashed eulogy of Nasir Albani whom it calls “the leading authority in the science of hadith” (1:88). The fact is that the only agreed-upon title Albani has been able to earn from the verifying Ulema of the Umma from East to West, is that of erratic innovator.

    (b) Declaring that “in case of breach of ablution, the wiping over the socks is sufficient, and there is no need for washing the feet” (1:31). This ruling invalidates one of the conditions of wudu’ spelled out in the Qur’an and the Sunna, making salât prayed with such a wiping null and void according to the Four Schools, which prohibit wiping over non-waterproof footwear.

    (c) Declaring that “ours should not be the belief that the dead do hear and reply [to our greeting]” (1:515). The Jumhur differs.

    (d) Declaring that expressing the intention (niyya) verbally before salât “is a Bid`ah (innovation in religion) because no proof of it is found in Shar’`ah” (1:14). This is not only a wanton attack on the Shafi`i School but an ignorant violation of the criteria of calling something an innovation in the Religion.

    (e) “Prohibition [of kissing] is only effective if the kissing of hands is also involved.” (2:721). Note that Imam Sufyan al-Thawri called the kissing of the hands of the Ulema a Sunna and that the majority of the scholars concur on its permissibility!

    (f) Saying “unapproved hadith” – an invented classification! – for the sahih hadith of the two Jews who kissed the Prophet’s – Allah bless and greet him – hands and feet as narrated by al-Tirmidhi (sah’h) and others.

    (g) The weakening of the hasan hadith whereby the Prophet kissed Zayd ibn Haritha as narrated by al-Tirmidhi (hasan).

    (h) Declaring “the hadiths about the kissing of hands are weak and deficient from the viewpoint of authenticity,” an outright lie.

    (i) Declaring after the hadith stating: “I suffer like two men of you”: “This Hadith… throws light on the fact that the Prophet was merely a human being.” (2:737) This discourse is that of the disbelievers mentioned in many places of the Qur’an: {They said: You are but mortals like us} (14:10), {Shall we put faith in two mortals like ourselves?} (23:47), {They said: You are but mortals like unto us} 36:15, {Shall mere mortals guide us?} (64:6).

    (j) Claiming: “We are uncertain that after saying a funeral prayer, the Prophet and his Companions ever stood around the bier and supplicated for the dead body. It is an innovation and must be abolished”! (2:755) This is flatly contradicted by the sound narrations ordering the Companions to make du`â for the deceased directly after burial. The commentor(s) go on to say: “It looks strange that believers should persist in reciting supplications in their own self-styled way after the funeral prayer, but desist from them during the funeral prayer to which they have relevance. It implies that prayer is not the object of their pursuit, otherwise they would have prayed in accordance with the Sunna. In fact, they cherish their self-fabricated line of action and seem determined to pursue it.” Yet the commentator(s) a few pages later (2:760) state: “The Prophet has instructed his followers that after a Muslim’s burial, they should keep standing beside his grave for some time and pray for his firmness”!

    (k) Omitting (2:760) to translate the words of Imam al-Shafi`i related by al-Nawawi in Chapter 161 (”Supplication for the Deceased after his Burial”): “”It is desirable (yustahabb) that they recite something of the Qur’an at the graveside, and if they recite the entire Qur’an it would be fine.” Omitting to translate these words which are in the original text of Riyad al-Salihin is deceit and a grave betrayal of the trust (amâna) of the translation of one the mother books of knowledge in Islam.

    (l) As if the above were not enough, the “commentary” goes on to state: “The reference made to Imam al-Shafi`i about the recitation of Qur’an beside a Muslim’s grave is in disagreement with the Prophet’s practice… the reference made to Imam al-Shafi`i seems to be of doubtful authenticity”! However, al-Za`farani said: “I asked al-Shafi`i about reciting Qur’an at the graveside and he said: la ba’sa bihi – There is no harm in it.” This is narrated by Imam Ahmad’s student al-Khallal (d. 311) in his book al-Amr bi al-Ma`ruf (p. 123 #243). Similar fatwas are reported from al-Sha`bi, Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahuyah, and others of the Salaf by no less than Ibn al-Qayyim and al-Shawkani in their books – the putative authorities of the “Salafi” movement.1

    (m) Stating (2:761): “Qur’an reading meant to transmit reward to the dead man’s soul is against the Prophet’s example. All such observances are of no use to the dead.” This is the exact same position as the Mu`tazila on the issue, who went so far as to deny the benefit of the Prophet’s intercession. It should be noted that the manipulative editors /commentators of Riyad al-Salihin deliberately omit any mention of the Companions’ practice, as it is authentically recorded from Ibn `Umar that he ordered that Qur’an be read over his grave, which has the statusof the Sunna of the Prophet as this particular Companion was known to be the staunchest of all people in his adherence to the Prophet’s example.

    (n) Stating (2:761): “For further detail, one can refer to Shaykh al-Albani’s Ahkam al-Jana’iz.” This is the book in which this man lists among the innovations of misguidance the fact that the Prophet’s grave is inside his Mosque in Madina and the fact that it has a dome built over it, and he asks for both of them to be removed.

    (o) Stating (2:791-792): “If a woman has no husband or Mahram, Hajj is not obligatory on her. Neither can she go for Hajj with a group of women, whether for Hajj or any other purposes…. Under no circumstances a woman may travel alone.” This contradicts the fatwa of the majority of the Ulema as well as the principle that when there is scholarly disagreement over an issue, it becomes automatically impermissible to declare it prohibited.

    (p) Rephrasing a hadith (2:810-811) by omitting key words which invalidate their position. In chapter 184 of Riyad al-Salihin titled “Desirability of Assembling for Qur’an-Recitation,” al-Nawawi cites the hadith of Muslim whereby the Prophet said: “No group of people assemble in one of the Houses of Allah, all of them reciting [plural pronoun] the Book of Allah (yatlِna kitâb Allâh) and studying It among themselves except Serenity (al-sak’na) shall descend upon them, etc.” The editor/ commentator(s) of Riyad al-Salihin rephrased the hadith thus: “Any group of people that assemble in one of the Houses of Allâh to study the Qur’ân, tranquillity will descend upon them, etc.” omitting the key words: “all of them reciting the Book of Allah.” Then the same editor/ commentator(s) had the gall to comment: “This Hadith… does not tell us in any way that this group of people recite the Qur’an all at once. This is Bid`ah for this was not the practice of the Messenger of Allah .” This is tampering compounded with a shameless lie. This misinterpretation and false claim of bid`a is, of course, directed at the Maghribi style of Qur’anic recitation that relies heavily on collective tilâwa in order to strengthen memorization.

    (q) The statement (2:848) concerning the Prophet’s miracle of seeing behind his back: “It must be borne in mind that a miracle happens with the will of Allah only. It is not at all in the power of the Prophet . Had he been capable of working a miracle on his own, he would have shown it at his own pleasure. But no Prophet was ever capable of it, nor was the Prophet an exception to this rule.” In truth this speech comes directly from books such as Isma`il Dehlvi’s Taqwyatul Iman concerning which Abu al-Hasan al-Thanvi said: “The words used by Isma`il Dehlvi are, of course, disrespectful and insolent. These words may never be used.” (Imdaad-ul-Fataawa 4:115)

    (r) The statement (2:861): “The right number of rak`ats in the Tarawih prayers is eight because the Prophet never offered more than eight rak`ats… It is not in any case twenty rak`ats. Authentic Ahâdith prove this pont abundantly.” This is a transgressive innovation (bid`a mufassiqa) as it rejects the command of the Prophet to “obey the Sunna of the Rightly-Guided Caliphs after me” and also kufr as it violates the passive Consensus (ijmâ` sukut’) of the Companions over twenty rak`ats.

    (s) The statement (2:905): “Twenty rak`at Tarawih is not confirmed from any authentic hadith, nor its ascription to `Umar ( is proved from any muttasil (connected) hadith.” This is a blatant lie, as the number of hadith masters who graded as sah’h the connected chains back to `Umar establishing twenty rak`at Tarawih are too numerous to count. They provided the basis on which the Ulema concur in declaring that Consensus formed on the matter among the Companions as stated by al-Qari, al-Zayla`i, al-Haytami, Ibn al-Humam, Ibn Qudama, and a number of other major jurists of the Four Schools.2

    (t) The statement (2:1025): “In the present age Shaykh Nasir al-Din al-Albani has done a very remarkable work in this field [hadith]. He has separated the weak Ahadith found in the four famous volumes of Ahadith (Abu Dawud, al-Tirmidhi, al-Nasa’i, and Ibn Majah) from the authentic and prepared separate volumes of authentic and weak ahadith. This work of Albani has made it easy for the ordinary Ulema to identify the weak Ahadith. Only a man of Shaykh Albani’s caliber can do research on it. The ordinary Ulema and religious scholars of the Muslims are heavily indebted to him for this great work and they should keep it in view before mentioning any hadith. They should mention only the authentic Ahadith and refrain from quoting the weak ones. It is wrong to ignore this work on the ground that Shaykh Albani is not the last word on the subject…. As Muhaddithin have done a great service to the Muslim Umma by collecting and compiling the Ahadith, similarly in the style of Muhaddithin, and in keeping with the principles laid down by them, the research carried out to separate the authentic Ahadith from the weak is in fact an effort to complete their mission. In this age, Almighty Allah has bestowed this honor on Shaykh Albani.” All this fawning will not hide the facts that al-Albani has been exposed as the innovator of this age par excellence and that his splitting of the books of Sunan into Sahih al-Tirmidhi and Da`if al-Tirmidhi and so forth is an unprecedented attack on the Motherbooks of Islam for which, undoubtedly, he shall be brought to account on the Day of Judgment as he was rejected for it by the Ulema of the Umma from East to West.

    (u) Another systematic mistranslation for the Chapter-title 338 (2:1294) states: “Prohibition of placing the hands on the sides during Salat” when the Arabic clearly states al-khâsira which means “waist” or “hip” rather than “sides.” The same mistranslation is then repeated in the body of the chapter, then a third time in the commentary. This mistranslation is part of the “Salafi” campaign against the Maliki form of sadl consisting in letting the arms hang down by the sides during the standing part of Salât. In some places of North Africa today, such as Marrakech, certain people are paid to declare takfir and tadlil, in the name of the Sunna, of those who pray with their arms hanging by their sides although it is an established Sunna!

    Truly we belong to Allah and to Him is our return, and there is no power nor might except in Allah the Exalted and Almighty Lord.

    All sincere Muslims should consider themselves warned and warn others that this is NOT a Sunni translation of the great classic of Imam al-Nawawi but an innovative, deviant, and inauthentic translation which should never have been allowed. There are two other English translations of Riyad al-Salihin available in print, any one of which would be preferable to this one. And from Allah comes all success.

    Source:

    http://qa.sunnipath.com/

  2. Assalamu’alaykum

    Kalau ada suatu masalah teliti dulu wahai saudaraku kebenarannya berdasarkan Kaidah2 Ilmiyah, sehingga antum tidak tersesat dan meyesatkan.

    Cek dulu jangan bersumber dari kata orang, atau kata buku, atau kata Ulama itu, atau katanya2.

    Namanya fatwa bisa saja salah, tergantung ketelitian dalam pengamatan dan analisa yg mendalam, sedangkan hanya dengan tanya2 atau melihat2 dari jauh itu menyalahi kaidah2 Ilmiyyah.

    Silahkan tanya dengan Alim Ulama dalam usaha Tabligh yg Fakih betul dalam masalah dakwah ini.

    Jazakallah

  3. slamo 3alaykom warahmato lahi wa barakatoh

    jazak God, Shaykh al-Fadil and make what is offered us in the balance Hassanatk.

  4. Sdr. yang budiman,

    Kita akan selalu mendapatkan penilaian-penilaian itu selalu berdasarkan karena tidak ada dalam Al-quran dan As-Sunnah. Al-Islam itu sudah sempurna dengan sumber-sumber itu, tetapi sarana atau wasilah itu akan tumbuh sesuai dengan jaman itu sendiri. Sehingga diperlukan oleh kaum muslimin adalah ijtihad terhadap wasilah itu sendiri.

    Kita mengetahui bahwa da’wah itu merupakan hal yang dianjurkan oleh agama kita yang mulia. Tetapi wasilah itu sendiri mungkin saja sama atau juga berkembang sesuai dengan perubahan itu sendiri.

    Kira-kira apa wasilah yang dilakukan Nabi dan para Shahabat untuk menjalankan da’wah ini? Jelas beliau menggunakan hal yang mendasar yaitu bertemu dengan manusia itu sendiri secara langsung. Dan hal itu dilakukan oleh para ahli da’wah dan tabligh untuk mengikutinya, yang membedakannya adalah waktunya dan caranya. Ini merupakan ijtihad itu sendiri.

    Coba sekarang perhatikan. Apa yang dilakukan da’wah sekarang ini oleh para orang-orang yang memberikan penilaian pada tabligh itu. Apakah beliau-beliau ini bertemu dari rumah-ke-rumah ke seperti Nabi, atau baru menyampaikan kalau diundang. Atau juga menulis di buku-buku. Atau menulis di Internet seperti yang tersebar itu.

    Jelas itu merupakan wasilah, sedangkan tujuanya adalah jelas untuk mengajak manusia taat kepada Allah swt dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

    Disinilah perlu kaum muslimin banyak menimba ‘pandangan berimbang’ tidak hanya mengandalkan satu doktrin, yang hanya menimbulkan kerdil dalam berpikir terhadap kaum muslimin sendiri.

    Silahkan bermudzakarah dengan baik dan sistematik, dan buka wacana berpikir tidak hanya mengandalkan doktrin-doktrin sepihak semata.

    Thanks,
    http://usahadawah.com
    http://usahadawah.wordpress.com

  5. Tolong buatin tabligh tentang IPTEK

  6. syeh EDAN ga py ilmu…pepesan kosong doang… keluar dulu 3 hri, 40 hari atau seumur hidup insya ALLAH dikasih kepahaman sama ALLAH SWT

  7. bingung saya, syeh ngomong ko ga ada isinya, kaya anak-anak TK, SD….apa dibayar berapa ya? Semoga ALLAH SWT kasih hidayah, dan diampuni segala dosanya

  8. Ping-balik: sejarah cirebon « windastress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s